haha69
haha69
haha69

Pernikahan Dini Memicu Fenomena Perempuan Hilang, Merenggut Kesejahteraan Mental Perempuan

Pernikahan Dini Memicu Fenomena Perempuan Hilang, Merenggut Kesejahteraan Mental Perempuan

Liputan6.com, Jakarta Riset Monash University menunjukkan bahwa pernikahan dini berdampak negatif pada kondisi fisik, psikologis, dan emosional perempuan. Hal ini memicu fenomena “missing women” atau hilangnya posisi tawar perempuan di Indonesia.

Isu pernikahan dini di Indonesia sudah mencapai tingkat yang memprihatinkan. Berdasarkan data UNICEF per akhir tahun 2022, Indonesia berada di peringkat ke-8 dunia dan ke-2 di ASEAN dengan total hampir 1,5 juta kasus.

Selain itu, menurut data Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia, Pengadilan Agama menerima 55.000 permohonan dispensasi nikah dini sepanjang tahun 2022. Itu hampir dua kali lipat jumlah pengajuan serupa pada tahun sebelumnya. .

Wanita Di Bawah Usia 16 Tahun Paling Terkena

Hingga tahun 2022, perempuan di bawah usia 16 tahun paling banyak terkena kasus ini, yakni 14,15 persen. Prevalensi ini meningkat secara signifikan selama pandemi COVID-19. Juga didorong oleh faktor-faktor seperti:

Meningkatnya angka putus sekolah

Menurunnya kondisi ekonomi keluarga

Kepatuhan dengan agama dan adat istiadat

Pengaruh rekan kerja yang menikah dini.

Tren yang memprihatinkan ini terus berlanjut meski pemerintah telah mengamandemen UU Perkawinan pada 2019. Berdasarkan undang-undang tersebut, pemerintah menaikkan usia minimal menikah menjadi 19 tahun bagi pria dan wanita.

Pengadilan Agama Soreang Kabupaten Bandung, Jawa Barat menerima ratusan permohonan dispensasi pernikahan dini di kalangan remaja. Karena dipicu oleh berbagai faktor dan salah satunya hamil di luar nikah.