haha69
haha69
haha69

Konsumsi Minuman Manis Kemasan Meningkat 15 Kali Lipat, Termasuk Anak-anak

Konsumsi Minuman Manis Kemasan Meningkat 15 Kali Lipat, Termasuk Anak-anak

Liputan6.com, Jakarta – Dalam dua dekade terakhir konsumsi minuman manis dalam kemasan (MBDK) meningkat 15 kali lipat. Data ini diungkapkan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI).

Tingginya konsumsi MBDK, termasuk di kalangan anak-anak, sejalan dengan meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular. Seperti risiko obesitas, diabetes, hingga penyakit kardiovaskular.

Dokter Spesialis Anak Natharina Yolanda menjelaskan bahaya konsumsi gula berlebih sejak dini berkaitan erat dengan penyakit tidak menular.

“Konsumsi gula berlebih, baik dari makanan atau minuman, berisiko tinggi menimbulkan gangguan kesehatan seperti kenaikan berat badan, risiko terkena diabetes melitus tipe 2 dan tekanan darah tinggi, serta mempercepat kepikunan dan penuaan dini,” ujar Natharina dalam keterangan pers yang diterima Health Liputan6.com, Sabtu (22/7/2023).

Bukan Hanya Tanggung Jawab Pribadi

Dalam keterangan yang sama, Project Lead CISDI untuk Kebijakan Pangan, Calista Segalita menjelaskan bahwa upaya hidup sehat dan mengurangi konsumsi gula sehari-hari bukan tanggung jawab pribadi semata.

Lingkungan sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan industri, membantu membentuk kebiasaan masyarakat dalam memilih makanan atau minuman.

Menurut CISDI, industri sebenarnya berperan dalam membentuk gaya hidup masyarakat atau disebut sebagai commercial determinant of health (CDoH).

CDoH mengacu pada bagaimana sektor swasta mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat, secara langsung atau tidak langsung, termasuk peningkatan faktor risiko penyakit tidak menular. Seperti polusi udara dari proses produksi, kegemukan melalui produk MBDK, atau berkurangnya aktivitas fisik akibat penggunaan produk yang berlebihan seperti gadget.

Singapura akan menjadi negara pertama yang melarang iklan minuman manis. Aturan tersebut akan diterapkan mulai tahun 2020.